BAGAIMANA BERSYUKUR YANG BAIK

June 25th, 2008

 

Oleh : Menik Nurul Malya R

 

Anda pernah membaca tulisan Sholat dan Shodaqoh Solusi Sukses ? disana anda akan menemukan banyak kalimat pencerahan, salah satunya adalah “ Azab adalah sesuatu yang tidak mengenakkan, sesuatu yang tidak ingin untuk terjadi, tetapi kita pasti menerimanya ketika kita tidak mau mensyukuri apa yang telah diberikan oleh Allah Swt pada kita “

 

Sebuah pencerahan yang sederhana tapi mempunyai dampak yang luas, dimana dalam tulisan Sholat dan Shodaqoh Solusi Sukses tsb tidak sekedar mengajarkan untuk mensyukuri nikmat  Allah Azza wa Jalla dengan malaksanakan sholat yang  khusuk, ikhlas dan benar  saja akan tetapi lebih dari itu, kenapa demikian…?

 

Cobalah renungi sejenak, kalau sebenarnya ajakan untuk sholat yang khusuk dan benar tsb, sebenarnya sudah mengajak anggota tubuh lainnya untuk bersyukur atau mensyukuri segala nikmat yang telah Allah Swt berikan.

Ketika sholat, ketika anda  menghadap sang khaliq maka saat itu juga  anggota tubuh mulai dari lisan, mata, telinga, kaki, tangan bahkan harta,iman dan akal pun turut serta bersyukur kepada-Nya. Lisan untuk membaca ayat2 Allah, mata tertunduk kedua kaki berdiri tegak menghadap-Nya, kedua tangan terangkat untuk takbiratul ihram, pakaian yang merupakan bagian dari harta juga turut serta menghadapnya. Sungguh  luar biasa bukan??

 

Jadi kalau selama ini hanya lisan selalu berkata “ Alhamdulillah “ ketika mendapatkan nikmat, Alangkah nikmatnya juga kalau mulai sekarang tidak hanya mengajarkan lisan untuk bersyukur atau mensyukuri, tetapi ajarkan pula anggota tubuh lainnya untuk bersyukur atau mensyukuri, sehingga rasa syukur atau mensyukuri nikmat  Allah Azza wa Jalla tidak pada saat melaksanakan sholat khusuk dan benar saja akan tetapi ditiap menit ditiap detik ditiap waktu.

 

·        Bersyukur atau mensyukuri nikmat lisan yang telah Allah Swt berikan yaitu dengan memperbanyak dzikir, membaca Alqur’an  walaupun itu hanya satu ayat saja, berkatalah lembut dan baik2. Jika tidak bisa melakukannya, maka malulah pada Allah Swt untuk tidak mengucapkan kata yang buruk yang tidak disukai Allah, seperti yang terjadi akhir2 ini dimana dengan mudahnya orang mencaci maki orang satu dengan yang lainnya.

 

·        Bersyukur atau mensyukuri nikmat tangan yang diberikan sang khalik, agar kedua tangan dapat digunakan untuk segala  hal yang baik, kalau tidak bisa maka takutlah padanya-Nya untuk tidak menggunakan kedua tangan menyakiti orang lain, mangambil hak orang lain yang bukan miliknya.

 

·        Bersyukur atau mensyukuri nikmat kaki yang telah dianugerahkan Allah Swt, untuk mempermudah sekaligus mempergunakan tiap langkah kaki untuk selalu beribadah kepada-Nya (misal: ke masjid), kalau disinipun masih belum mampu melakukannya maka malu lah pada Allah dan berusahalah  sekuat tenaga jangan menggunakan kedua kaki untuk melangkah ketempat maksiat

 

·        Bersyukur atau mensyukuri nikmat mata yang telah diberikan Allah Swt dengan harapan agar dapat melihat, memperhatikan sesuatu yang baik yang kemudian dapat diambil hikmahnya untuk dijadikan tauladan dalam kehidupan sehari hari. Akan tetapi kalau belum bisa melakukannya maka takutlah pada Allah untuk tidak melihat yang dilarang oleh- Nya

 

·        Bersyukur atau mensyukuri nikmat telinga yang telah diberikan sang khalik dengan mendengar bacaan Alqur’an, mendengar bacaan dzikir serta mendengarkan nasihat yang baik baik, apabila hal ini pun tidak bisa maka malulah kepada sang khalik dengan menghindari mendengarkan berita berita buruk.

 

·        Bersyukur atau mensyukuri nikmat harta yang begitu banyak telah diberikan Allah Azza waa Jalla, dengan mempergunakan harta tsb kejalan yang diridho’i –Nya (misal : zakat,shodaqoh,membantu anak yatim, kaum dhuafa). Jika masih belum bisa melakukannya  maka takutlah pada-Nya untuk tidak menggunakan harta yang diperoleh kejalan yang tidak di ridho’i-Nya.

 

·        Bersyukur atau mensyukuri nikmat iman yaitu dengan bersungguh sungguh hanya untuk mencari ridho-Nya, sebagai tanda rasa syukur terhadap nikmat-Nya yang begitu luar biasa, yang telah diberikan-Nya selama ini. Jika untuk hal ini pun belum mampu dilakukan maka takutlah pada-Nya untuk tidak menyia nyiakan iman dengan cara menghindari perbuatan yang tidak disukai oleh-Nya, jangan sia sia kan waktu tapi pergunakanlah waktu untuk sesuatu yang dibenarkan dan tidak melanggar  apa yang diperintahkan-Nya.

 

·        Bersyukur atau mensyukuri nikmat akal yang telah Allah Swt berikan agar dapat berpikir dan merenung sejenak, agar dapat memuliakan dan mengagungkankan-Nya, agar mengetahui sekaligus memahami hal yang baik dan benar sehingga tidak mengulang kesalahan kedua kalinya. Dan akan terasa lebih nikmat lagi kalau akal tsb digunakan dgn bertujuan mulia, yaitu sebagai muhasabah (intropeksi diri). Kalau untuk hal tsb belum mampu melakukannya, maka malu lah pada Allah Swt dengan tidak menyelimuti diri dengan sifat iri dengki, dengan meremehkan segala  perintah-Nya.

 

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla Maha Pengasih, Maha Mulia dan Maha Pemurah, amin.

 

 

 

 

 

 

 

Salat Khusyu Itu Mudah Dan Nikmat

June 9th, 2008

Oleh : - Kang Erry -

Qur’an Surat Al Mukminun 1-2, “Telah beruntunglah orang-orang mukmin, yaitu mereka yang khusyu’ dalam sholatnya.”

Arti khusyu

Sikap tenang, tentram, perlahan, penghormatan dan ketundukan serta sikap yang disertai perasaan takut kepada Allah dan perasaan selalu diawasiNya.

JANGAN ‘MENCIPTAKAN’ KHUSYU’

cukup siapkan diri untuk ‘menerima’ khusyu’ itu, karena khusyu’ bukan kita ciptakan tapi ‘diberi langsung’ oleh Allah sebagai hadiah nikmat kita menemuiNya.

bersikap rileks. Kepala hingga pinggang dikendorkan, jatuh laksana kain basah yang dipegang ujungnya dari atas. Berat badan mengumpul di kaki yang kemudian serasa keluar akarnya, mengakar ke bumi. Berdiri santai, senyaman kita berdiri. laksana pohon cemara, meluruh atasnya, kokoh akarnya sehingga luwes tertiup angin namun tak roboh.

Pertama, heningkan pikiran agar rileks. Usahakan tubuh tidak tegang. Tak perlu mengonsentrasikan pikiran sampai mengerutkan kening, karena justru akan merasakan pusing dan capek.

Kedua, rasakan getaran kalbu yang bening dan sambungkan rasa itu dengan Allah. Biasanya jika sudah tersambung, suasana sangat hening dan tenang serta terasa getarannya menyelimuti jiwa dan fisik. ”Getaran jiwa inilah yang menyambungkan kepada Zat, yang menyebabkan pikiran tidak liar ke sana kemari.”

Ketiga, bangkitkan kesadaran diri bahwa kita sedang berhadapan dengan Zat yang Mahakuasa, akan menyembah sujud kepada-Nya serendah-rendahnya. Kemudian akan menyerahkan diri kita dengan sukarela.

Keempat, berniatlah dengan sengaja dan sadar sehingga muncul getaran rasa yang sangat halus dan kuat menarik rohani meluncur ke hadirat-Nya. Rasakanlah getaran itu ketika mengucapkan Allahu Akbar.

Kelima, pada saat ruku dan sujud, rasakan pula ruh kita melakukan bersama dengan tubuh kita. Biasanya terasa sekali rohani ketika memuji Allah dan akan berpengaruh kepada fisik, menjadi lebih tunduk, ringan, dan harmonis.

Selanjutnya sempurnakanlah kesadaran shalat sampai salam.

”Shalat yang benar pada akhirnya akan mengubah tabiat jelek seseorang. Kalau setiap hari shalat, tapi kelakuannya tetap jelek, berarti shalatnya belum benar,”

Bersikap rileks menyiapkan diri kita untuk siap ‘menerima’ karunia khusyu’, karena khusyu’ itu diberi bukan kita ciptakan.

Pernah sholat di belakang imam yang ‘ngebut’ sholatnya? Kita Baru mau selesai Al Fatihah, eh dia sudah ruku’. Kita mau ruku’ eh dia sudah berdiri I’tidal. Dan seterusnya. Kadang kita kesal karena irama kecepatan sholatnya berbeda.

Ternyata demikian halnya dengan sholat kita sendiri. Ketika kita sholat, selain badan fisik kita ini sholat pula ruh kita. Ruh inilah yang benar-benar ingin sholat -kembali menemui Tuhannya- sementara badan fisik ini sarana kita mengantarnya dengan gerakan dan bacaan. Ruh kita ini sesungguhnya ingin sholat dengan tenang, santai, tuma’ninah. Sayangnya badan kita ‘ngebut’, jadilah ruh kita itu jengkel sejengkel-jengkelnya karena selalu ketinggalan gerakan badan. Maka tips sederhananya adalah jika ruku’, tunggu, tunggu hingga ruh ikut mantap dalam ruku’ itu. Saat I’tidal, tunggu, tunggu hingga ruh mu ikut mantap I’tidal. Demikian pula saat sujud, duduk antara dua sujud, juga duduk tasyahud. Tunggu, tunggu hingg ruh mu ikut sujud, ikut duduk, ikut tasyahud.

Berikan kesempatan ruh kita -sebut saja “aku” yang sejati- untuk mengambil sikap sholatnya. Dia agak lamban, namun sholat ini utamanya untuk ‘aku” kita itu, bukan untuk badan fisik kita.

Esensi sholat adalah doa, berdialog dengan Allah secara langsung.

Kita sebenarnya diberi kesempatan untuk mengadu. Kita adukan semua persoalan kita kepada Allah. Kita adukan semua kebingungan kita, pekerjaan, rizki, kesehatan, cinta, dan semua apapun. Kita mengadu, dan kita pasrah menunggu dijawab. Dan pasti Allah menjawabnya langsung. Ruh bisa merasakannya, namun kalau dia dipaksa tertinggal-tinggal oleh gerakan badan, maka dia tidak sempat menikmati pertemuan dengan Allah itu.

Saat ruku’ kita ruku’ lama, sambil menarik regang kaki dan punggung . Nikmati saja seperti menikmati peregangan bila senam. Saat sujud, kita tumpukan kepala sebagai tumpuan utama. Nikmat rasanya ‘terpijat’ dahi ini oleh gerak sujud. Saat ruh telah ikut sujud, saya baca dengan penghayatan, “Subhana robbiyal a’laa wa bi hamdih” (Maha Suci Engkau yang Maha Tinggi dan Maha Terpuji). Rasanya nikmat sekali sujud lama.

Lalu, lalu kita duduk setelah sujud. kita baca sepotong-sepotong bacaannya,. Robbighfirlii (Ya Tuhan ampunilah aku). Lalu kita diam sejenak. Tiba-tiba keluar sendiri air mata, kita menangis karena menyadari betapa dalam makna kalimat pengaduan ini. Kita minta secara langsung untuk dimaafkan . Ruh kita meminta secara langsung, dan Allah menjawabnya. kita menangis. Ruh kita menangis, kita yang sejati, menangis. War hamnii (dan sayangilah aku), air mata itupun tumpah. Wajburnii. Diam. War fa’nii. Diam.. Warzuqnii (beri rizki padaku -Ya Allah), air mata kita akan benar-benar tumpah, betul-betul kita tiba-tiba sadar bahwa selama ini kita mengejar-ngejar rizki tapi tidak serius mengakui itu dariNya, lalu saat ini kita sedang memintanya langsung! Wahdinii (tunjukilah aku -karena aku sedang bingung dan tak tahu). Diam sejenak, rasakan getaran qalbu nya kita akan merasakan air mata kita benar-benar meleleh deras Wa’aafinii (dan sehatkan aku). Wa’fuannii (dan maafkan aku- yang banyak dosa ini).

Mulailah kita berdoa dengan meratap. Seraya mengucapkan, “Ya Allah… Ya Allah… Ya Allah…”, sambil mengangkat tangan setinggi wajah seperti seorang pengemis yang meminta-minta. Berkali-kali, hingga hati kita siap berdoa. Imam Gazali berkata kalau kita ingin dekat Allah maka kita harus sungguh-sungguh memanggilnya laksana seorang anak kecil yang ketakutan karena ada ular atau bahya, lalu memanggil-manggil ayahnya, “Ayah… Ayah… Ayah…”, maka ayahnya pasti datang dengan seruan itu dan melindungi anak tersebut. Demikianlah kalau kita ingin bebas dari maksiat, kata Al Ghazali, maka kita harus panggil dengan betul-betul ketakutan akan maksiat tersebut, kita panggil pelindung kita dengan sungguh-sungguh seakan anak kecil memanggil-manggil ayahnya, maka akan dilindungi kita dari maksiat tersebut.

Cobalah kita berdoa, mengadu di depan Tuhan secara langsung. kita ikhlaskan apapun jawaban dari doa tersebut. Dengan bahasa yang kita mengerti dan kita kuasai agar esensi do’a tercapai yakni dialog bercakap-cakap dengan Allah SWT

BERIKUT ADALAH BACAAN SHOLAT BESERTA ARTINYA SERTA KETERANGANNYA

Takbir

Takbiratul Ihram —> ALLAAHU AKBAR (Allaah Maha Besar)

 

Allaahu akbar kabiira, walhamdulillaahi katsiira, wa subhanallaahi bukrataw, waashiila.

(Allah Maha Besar, dan Segala Puji yang sangat banyak bagi Allah, dan Maha Suci Allah sepanjang pagi, dan petang).

 

Innii wajjahtu wajhiya, lillazii fatharassamaawaati walardha, haniifam, muslimaa, wamaa ana minal musrykiin.

(Sungguh aku hadapkan wajahku kepada wajahMu, yang telah menciptakan langit dan bumi, dengan penuh kelurusan, dan penyerahan diri, dan aku tidak termasuk orang-orang yang mempersekutuan Engkau/Musryik)

 

Innasshalaatii, wa nusukii, wa mahyaaya, wa mamaati, lillaahi rabbil ‘aalamiin.

(Sesungguhnya shalatku, dan ibadah qurbanku, dan hidupku, dan matiku, hanya untuk Allaah Rabb Semesta Alam).

 

Laa syariikalahu, wabidzaalika umirtu, wa ana minal muslimiin.

(Tidak akan aku menduakan Engkau, dan memang aku diperintahkan seperti itu, dan aku termasuk golongan hamba yang berserah diri kepadaMu)

 

Adapun Rasulullaah ketika membaca surah Al-Faatihah senantiasa satu napas per satu ayatnya, tidak terburu-buru, dan benar-benar memaknainya. Surah ini memiliki khasiat yang sangat tinggi sekali. Bahkan Ibn Qayyim Al-Jauziyyah sampai menuliskan makna iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin, dalam satu kitabnya yang berjudul Madarijus Saalikin, dimana beliau bercerita ketika di suatu kota ia menderita sakit, maka ia membacanya per ayat dengan sungguh-sungguh, dan ia rasakan bahwa setiap selesai satu ayat dibacanya, terasa berguguran sakit yang dirasakannya. Subhaanallaah.

 

Mari kita hafal terlebih dahulu arti per ayatnya sebelum kita memaknainya.

 

(Bismillaahirrahmaanirrahiim)

(Dengan nama Allaah, Maha Pengasih, Maha Penyayang)

 

Alhamdulillaah, Rabbil ‘aalamiin

(Segala puji hanya milik Allaah, Rabb semesta ‘alam)

 

Arrahmaanirrahiim

(Maha Pengasih, Maha Penyayang)

 

Maaliki, yaumiddiin

(Penguasa, Hari Pembalasan/Hari Tempat Kembali)

 

Iyyaaka, na’budu, wa iyyaaka, nasta’iin

(KepadaMulah, kami menyembah, dan kepadaMulah, kami mohon pertolongan)

 

Ihdina, asshiraathal, mustaqiim —> berharaplah dengan penuh harap ketika membacanya.

(Tunjuki kami, jalan, golongan orang-orang yang lurus)

 

Shiraath, alladziina, an’am, ta ‘alayhim

(Jalan, yang, telah Engkau beri ni’mat, kepada mereka)

 

Ghayril maghduubi ‘alaihim, wa laddhaaaalliiin.

(Bukan/Selain, (jalan) orang-orang yang telah Engkau murkai, dan bukan (jalan) orang-orang yang sesat)

 

 

setelah membaca Surah Al-Faatihah, maka hendaknya kita membaca ayat-ayat Al-Qur’an.

 

Ruku’

 

Lalu ruku’, dimana ketika ruku’ ini beliau mengucapkan bermacam-macam dzikir dan do’a. Kadangkala beliau mengucapkan yang ini dan kadangkala mengucapkan yang itu :

1. Subhaana, rabbiyal, ‘adzhiimi.

(Maha Suci, Tuhanku, Yang Maha Agung)

—> dzikir ini diucapkan beliau sebanyak tiga kali.

(Hadits riwayat Ahmad, Abu Daud, Ibn Majah, Ad-Daaruquthni, Al-Bazaar, dan Ath-Thabarani)

—> kadangkala juga beliau membacanya berulang-ulang lebih banyak dari tiga kali, dan sesekali beliau

berlebihan dalam mengulanginya ketika shalat lail (malam), sehingga lama ruku’nya hampir mendekati

lama berdirinya.

 

2. Subbuuhun, qudduus, rabbul malaaikati, warruuh.

(Maha Suci Engkau ya Allaah, Pemberi berkah, Tuhan malaikat, dan ruh) –> Riwayat Muslim

 

3. Allaahumma, laka raka’at, wa aamantu, wa laka aslamtu,

(Yaa Allaah, kepadaMu, kuserahkan ruku’ku, kepadaMu aku beriman, kepadaMu aku Islam (menyerahkan diri).)

anta rabbiiy, khasa’a laka sam’iiy, wa bashariy, wa mukhyii, wa ‘adzhomii, wa fii riwaayah

(Engkau Tuhanku, KepadaMulah pendengaran, penglihatan, otak, tulang, dan syarafku tunduk)

wa mastaqallat bihi, qadamii, lillaah, rabbil ‘aalamiin.

(Dan apa yang dibawa kakiku, kuserahkan, kepada Allaah, Tuhan semesta alam)

(HR. Ad-Dharuquthni)

 

Memperpanjang Ruku’

Diriwayatkan bahwa :

 

“Rasulullaah Sallallaahu ‘alayhi wa sallaam, menjadikan ruku’nya, dan bangkitnya dari ruku’, sujudnya, dan duduknya di antara dua sujud hampir sama lamanya.”

 

(Hadits Shahih Riwayat Imam Bukhari dan Muslim)

 

I’tidal

Rasululullaah Sallaahu ‘alayhi wa sallaam mengangkat punggungnya dari ruku’ sambil mengucapkan,

“Mudah-mudahan Allah mendengarkan (memperhatikan) orang yang memujiNya”.

(Hadits diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim)

 

Maka ketika kita i’tidal atau bangkit dari ruku, sambil mengangkat kedua tangan sejajar bahu ataupun sejajar telinga, maka kita mengucapkan :

 

Sami’allaahu, li, man, hamida, hu

(Mudah-mudahan mendengar Allah, kepada, sesiapa yang, memuji, Nya)

 

“Sesungguhnya imam itu dijadikan hanya untuk diikuti. Oleh karena itu, apabila ia mengucapkan “sami’allaahu liman hamidah”, maka ucapkanlah “rabbanaa lakal hamdu”, niscaya Allah memperhatikan kamu. Karena Allah yang bertambah-tambahlah berkahNya, dan bertambah-tambahlah keluhuranNya telah berfirman melalui lisan NabiNya saw., “Mudah-mudahan Allah mendengarkan (memperhatikan) orang yang memujiNya”.

(Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Ahmad, dan Abu Daud)

 

Maka mari kita baca :

Rabbanaa, lakal, hamdu

(Yaa Tuhan kami, bagiMulah, segala puji)

 

Kadangkala lafadzh diatas beliau tambahkan seperti :

mil assamaawaati, wa mil al ardhi, wa mil a maa shikta, min shai in, ba’du

(Sepenuh langit, dan sepenuh bumi, dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki, dari sesuatu, sesudahnya)

Kalimat diatas didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu ‘Uwanah)

 

Sujud

Ketika kita sujud, maka dengan tenang hendaknya kita mengucapkan do’a-do’a sujud seperti yang telah dicontohkan Rasulullaah Sallallaahu ‘alayhi wa sallaam.

 

1. Subhaana, rabbiyal, a’laa

(Maha Suci, Tuhanku, Yang Maha Luhur)

Dzikir ini beliau ucapkan sebanyak tiga kali, dan kadangkala beliau mengulang-ulanginya lebih daripada itu.

2. Subhaana, rabbiyal, a’laa, wa, bihamdi, hi

(Maha Suci, Tuhanku, Yang Maha Luhur, dan, aku memuji, Nya)

 

3. Subbuuhun, qudduusun, rabbul malaaikati, warruuh

(Maha Suci, Pemberi Berkat, Tuhan malaikat, dan ruh)

Duduk antara dua Sujud

Ketika kita bangun dari sujud, maka hendaklah kita berdo’a sepertinya do’anya Rasulullaah, dan bacalah do’a tersebuh dengan sungguh-sungguh, perlahan-lahan, dan penuh pengharapan kepada Allah Subhaana wa Ta’ala.

 

Di dalam duduk ini, Rasulullaah Sallallaahu ‘alayhi wa sallaam mengucapkan :

Allaahummaghfirlii, warhamnii, wajburnii, warfa’nii, wahdinii, wa ‘aafinii, warzuqnii

(Ya Allaah ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah kekuranganku, sehatkanlah aku, dan berilah rizqi kepadaku)

 

Dari Hadits yang diriwayatkan Muslim, bahwa Rasulullaah saw, kadangkala duduk tegak di atas kedua tumit dan dada kedua kakinya. Beliau juga memanjangkan posisi ini sehingga hampir mendekati lama sujudnya (Al-Bukhari dan Muslim).

 

 

Duduk At-Tasyaahud Awal

01. Sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari, Muslim, dan Ibnu Abi Syaibah.

Dari Ibn Mas’ud berkata, Rasulullaah saw telah mengajarkan at-tasyaahud kepadaku, dan kedua telapak tanganku (berada) di antara kedua telapak tangan beliau - sebagaimana beliau mengajarkan surat dari Al-Qur’an kepadaku : —> (Mari dihafalkan setiap katanya sehingga shalat kita lebih mudah untuk khusyuk)

 

Attahiyyaatulillaah, wasshalawatu, watthayyibaat.

Segala ucapan selamat adalah bagi Allaah, dan kebahagiaan, dan kebaikan.

 

Assalaamu ‘alayka * , ayyuhannabiyyu, warahmatullaah, wa barakaatuh.

Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepadamu *, wahai Nabi, dan beserta rahmat Allaah, dan berkatNya.

 

Assalaamu ‘alaynaa, wa ‘alaa, ‘ibaadillaahisshaalihiiin.

Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada kami pula, dan kepada sekalian hamba-hambanya yang shaleh.

 

Asyhadu, allaa, ilaaha, illallaah.

Aku bersaksi, bahwa tiada, Tuhan, kecuali Allaah.

 

Wa asyhadu, anna muhammadan, ‘abduhu, wa rasuluhu.

Dan aku bersaksi, bahwa muhammad, hambaNya, dan RasulNya.

 

* Hal ini ketika beliah masih hidup, kemudian tatkala beliau wafat, maka para shahabat mengucapkan :

Assalaamu ‘alannabiy.

Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada Nabi.

 

02. Sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Abu ‘Uwanah, Asy-Syafi’i, dan An-Nasa’i.

Dari Ibnu ‘Abbas berkata, Rasulullaah telah mengajarkan At-Tasyahhud kepada kami sebagaimana mengajarkan surat dari Al-Qur’an kepada kami. Beliau mengucapkan :

 

Attahiyyaatul mubaarakaatusshalawaatutthayyibaatulillaah.

Assalaamu ‘alayka ayyuhannabiyyu warahmatullaahi wa barakaatuh.

Assalaamu ‘alayna wa ‘alaa ‘ibaadillaahisshaalihiin.

Asyhadu allaa ilaaha illallaah.

Wa asyhadu annaa muhammadarrasuulullaah.

(dalam riwayat lain : Wa asyhadu annaa, muhammadan, ‘abduhu, warasuuluh)

–> Artinya sama dengan yang diatas, insha Allaah.

 

Bacaan shalawat Nabi di akhir shalat

Rasulullaah saw. mengucapkan shalawat atas dirinya sendiri di dalam tasyahhud pertama dan lainnya. Yang demikian itu beliau syari’atkan kepada umatnya, yakni beliau memerintahkan kepada mereka untuk mengucapkan shalawat atasnya setelah mengucapkan salam kepadanya dan beliau mengajar mereka macam-macam bacaan salawat kepadanya.

Berikut kita ambil sebuah hadits yang sudah umum di kita, diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, dan Al-Humaidi, dan Ibnu Mandah.

 

Allaahumma, shalli ‘alaa muhammad, wa ‘alaa, aali muhammad.

Ya Allaah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada, keluarga Muhammad

 

Kamaa, shallayta, ‘alaa ibrahiim, wa ‘alaa, aali ibraahiim.

Sebagaimana, Engkau telah memberikan kebahagiaan, kepada Ibrahim, dan kepada, keluarga Ibrahim.

 

Innaka, hamiidummajiid.

Sesungguhnya Engkau, Maha Terpuji lagi Maha Mulia.

 

Allaahumma, baarik, ‘alaa muhammad, wa ‘alaa aali muhammad.

Ya Allaah, berikanlah berkah, kepada Muhammad, dan kepada, keluarga Muhammad

 

Kamaa, baarakta, ‘ala ibraahiim, wa ‘alaa, aali ibraahiiim.

Sebagaimana, Engkau telah memberikan berkah, kepada ibrahim, dan kepada, keluarga Ibrahim.

 

Innaka, hamiidummajiid.

Sesungguhnya Engkau, Maha Terpuji lagi Maha Mulia.

Cara Mengucapkan Salam

Mari kita simak hadits berikut, yang diriwayatkan oleh Abu Daud, An-Nasa’i, dan Tirmidzi serta dishahihkan olehnya.

 

“Rasulullaah saw. mengucapkan salam ke sebelah kanannya : Assalaamu ‘alaykum warahmatullaahi wa barakaatuh (Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepada kamu sekalian serta rahmat Allaah, serta berkatNya), sehingga tampaklah putih pipinya sebelah kanan. Dan ke sebelah kiri beliau mengucapkan : Assalaamu ‘alaykum warahmatullaah (Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepada kamu sekalian serta rahmat Allaah), sehingga tampaklah putih pipinya yang sebelah kiri.”

Perhatikanlah, bahwa ternyata ucapan kita ketika menoleh ke kanan (salam yang pertama) lebih banyak daripada ucapan kita ketika menoleh ke kiri (salam yang kedua).

 

Atau dalam riwayat lain, ketika salam yang pertama beliau mengucapkan : Assalaamu ‘alaykum warahmatullaah, dan pada salam yang kedua beliau mengucapkan : Assalaamu ‘alaykum.

 

Alhamdulillaah, Maha Benar Allaah atas segala FirmanNya. Maka semoga  artikel ini menjadikan jalan kemudahan bagi kita di dalam usaha kita berusaha khusyuk dan memahami setiap gerakan yang kita lakukan, sehingga benar-benar memiliki ruh dan nilai yang sulit bagi kita untuk menuangkannya dalam kata-kata, karena begitu nikmatnya shalat itu.

 

(Dikutif dari berbagai Sumber Oleh : -Kang Erry-)

Seri Motivasi: Pembangkit Sukses Tenaga Shalat (PSTS)

June 2nd, 2008

Ada Apa Dengan Shalat ? (AA De Es)

 

Ada apa dengan shalat? Milyaran kaum muslimin melakukan shalat namun shalatnya tidak bisa memberikan manfaat apa-apa kecuali rasa cape. Umumnya Apa yang kita tau tentang Shalat hanya sebatas kalau dikerjakan mendapat pahala dan masuk surga kalau di tinggalkan atau dilalaikan  mendapat azab dan masuk neraka. Doktrin ini sudah turun temurun di ajarkan oleh orang tua kita, ustadz, kyai dan dari buku / kitab lainnya. Namun sayangnya Doktrin tersebut tidak diimbangi dengan fungsi shalat yang bisa dirasakan ketika masih di dunia bahkan manfaat shalat bisa di rasakan detik itu juga. Sehingga shalat menjadi kurang menarik bahkan cenderung menjadi beban yang mengganggu rutinitas kita sehari-hari. Shalat kita hanya sebatas menunaikan kewajiban atau karena rasa takut akan dimasukan kedalam neraka.

 

Ironisnya dengan ancaman yang begitu mengerikan akan derita di neraka pengajaran shalat menjadi timpang, bahkan kita tidak pernah diajarkan bagaimana caranya meraih rasa khusyu, kalaupun pernah porsinya tidak berimbang. Padahal Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya (Qur’an surat Al-Mu’Minun Ayat 1-2)

 

Ayat tersebut menerangkan bahwa yang “beruntung” itu adalah orang yang beriman dan khusyu dalam shalatnya, hal ini berarti yang tidak khusyu tidak termasuk orang yang “Beruntung”. Sedemikian besar pentingnya khusyu namun pengajarannya mendapatkan porsi yang terpinggirkan sehingga fungsi shalat menjadi bias, kebanyakan Shalat hanya diajarkan dari segi ilmu fiqihnya yakni tata cara, rukun dan syarat sahnya serta bacaannnya. Dan inipun oleh beberapa kalangan dijadikan bahan perdebatan yang kemudian berakhir dengan perpecahan dan permusuhan sesama umat Islam. Shalat bukannya menjadi berkah namun menjadi ajang konflik, buah mengerjakan Shalat hanya sebatas lega telah selesai menjalankan kewajiban.

 

Shalat sesungguhnya sesuatu yang sangat luar biasa, umat islam yang jeli harus bertanya mengapa shalat di turunkan oleh Allah di tempat tertinggi di langit ketujuh yakni di sidratul muntaha?, mengapa tidak diturunkan di dunia ini seperti Al-Qur’an, Injil, Taurat dan Jabur? Memang hal ini hak Prerogatif Allah SWT mau diturunkan dimanapun juga tidak akan mengurangi keistimewaan shalat, tetapi tidak semata mata Allah menurunkannya di Sidratul Muntaha kalau Shalat bukan suatu perkara yang besar, sesuatu yang istimewa, sesuatu yang luar biasa..Shalat dipandang biasa biasa saja oleh sebagian besar umat islam bahkan dilalaikan dan ditinggalkan karena manfaat shalat tidak bisa dirasakan oleh yang mengerjakannya, bahkan menjadi beban dalam hidupnya.

 

Ribuan motivator memberikan solusi bagaimana meraih sukses, bagaimana merubah hidup anda dari keterpurukan menjadi bangkit dan meraih kebahagiaan, namun hanya beberapa orang yang bisa menerapkannya dengan konsisten, sisanya kembali kepada keterpurukan, semangatnya mengendur dan akhirnya hidup dijalani tanpa  visi dan misi yang jelas.  Istilah hidup dijalani apa adanya hidup bagaikan air mengalir menjadi tempat persembunyian orang-orang yang enggan mempersembahkan yang terbaik dalam hidupnya. Padahal hidup di dunia hanyalah sementara masih ada kehidupan lain yang lebih panjang di alam akhirat nanti, kalau kita tidak mempersembahkan yang terbaik dalam hidup kita, maka penyesalan yang tiada akhir akan menunggu di hari berbangkit dimana hanya amal ketika di dunialah yang bisa memberikan manfaat.

 

Berjuta-juta orang di dunia meraih segala cara untuk memperoleh kebahagiaan hidup, kepuasan batin, kesuksesan bahkan tidak jarang untuk memperoleh kepuasan manusia mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Banyak pula diantara Umat islam yang belajar meditasi seperti yoga, reiki dll hanya untuk memperoleh kepuasan batin, padahal  Umat Islam punya sesuatu yang lebih bisa diandalkan yang lebih dari sekedar meditasi seperti reiki dan yoga yakni dengan jalan. “Mendirikan Shalat” ..

 

Mendirikan Shalat sangat berbeda dengan mengerjakan Shalat, mengerjakan Shalat asal dipenuhi syarat rukunnya maka dia telah mengerjakan Shalat, Mendirikan Shalat itu selain shalatnya dikerjakan dengan benar, penuh dengan kekhusyuan dan ikhlas, nilai-nilai yang terkandung dalam shalat harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari hari. Umat Islam pada umumnya asal sudah mengerjakan Shalat maka selesailah kewajiban, perkara di luar shalat mau maksiat, mau korupsi itu masalah lain. Padahal cerminan dari nilai nilai shalat dalam kehidupan sehari-hari merupakan satu paket yang tidak terpisahkan dari “Mendirikan Shalat”. Akhirnya Shalatnya Umat Islam menjadi tidak berharga dan tidak bernilai…maka pantas saja nyawa umat islam menjadi nyawa yang paling tidak berharga  di ambon di poso di palestina semua menjadi korban pembantaian. Shalatnya tidak menjadikan manusia mulia dan sukses melainkan terpuruk , jatuh dan tertindas, yang miskin semakin miskin tanpa ada perubahan dalam hidupnya. Islam diidentikan oleh dunia barat dan juga orang-orang yang membenci Islam sebagai orang-orang yang dekat dengan terorisme, kemiskinan dan keterbelakangan sementara dunia barat diidentikan dengan kemoderenan, kemajuan dan kemapanan.

 

Sering kita bertanya mengapa orang orang barat yang notabene non muslim hidupnya maju dan berkelimpahan. Dunia barat seakan menjadi kiblat peradaban modern, sebuah peradaban yang ideal menurut kaca mata manusia.  Sementara umat islam cenderung  terbelakang dan lamban.

 

Kalau kita teliti rahasiah keberhasilan mereka, ternyata walau mereka tidak mengenal Shalat karena umumnya Non Muslim , mereka  menerapkan nilai-nilai yang terkandung di dalam Shalat bahkan mereka menerapkan nilai-nilai syukur.  Mereka hidup disiplin, ulet , optimis, tidak mudah putus asa, mengerjakan sesuatu dengan serius/khusyu dan dengan segenap hati Maka mereka layak dan pantas menjadi bangsa yang “Maju”, walau majunya masih dalam tanda kutip karena harus diakui juga kemajuan mereka dalam pembangunan material tidak diimbangi dengan kemajuan dibidang spiritual terlepas dari apapun agama dan keyakinan yang mereka anut. Dalam tatanan kehidupan universal semua berlaku hukum sebab akibat. Tidak lantas Allah dengan begitu saja memberikan kelimpahan di dunia kepada mereka, mereka bisa maju karena berusaha sekuat tenaga untuk maju .

 

Kalau kita mau kembali melihat sejarah peradaban Islam, Generasi Islam Pertama merupakan generasi unggul yang benar benar mendirikan Shalatnya sehingga Allah mencurahkan segala keberkahannya dari langit dan bumi   Islam dahulu menjadi kiblat orang-orang barat dalam menuntut ilmu. Kita mengenal Ibnu Sina sebagai Bapak Kedokteran Modern, Abu Musa Alkhwarizmi penemu matematika Al-Jabar bahkan nama Al-Khawarizmi ini diabadikan menjadi nama salah satu ilmu dasar dasar pemrograman komputer yakni Algoritma yang kata ini diserap dari kata Al-khwarizmi hanya di lidah orang barat Al-khwarizmi di baca Algorithm.

 

Hampir di semua bidang keilmuan Islam menjadi rujukan orang orang barat selama beratus ratus tahun.  Ketika di Barat belum ada Universitas kaum Muslimin sudah memilikinya terlebih dahulu. Islam menjadi bangsa yang besar dengan peradaban paling maju dan modern dengan wilayah terbentang luas dari mulai Zazirah arab kemudian ke afrika, eropa dan asia. Semua di raih karena mereka benar benar mendirikan Shalat serta mengimplementasikan nilai-nilai shalat dalam kehidupan mereka sehari-hari, mereka mau maju dan berubah menuju arah yang lebih baik.

 

So.. What Happen dengan Indonesia?, Indonesia wilayah daratan dan lautannya luas, SDM-nya banyak, Sumber daya alam melimpah, suasana kondusif tetapi mengapa Indonesia kalah maju dengan negara negara lainnya? . Indonesia yang mayoritas Umat islam dan menjadi negara yang Umat Islamnya terbesar di Dunia ternyata tidak mampu berbuat banyak. Seharusnya kita sebagai Umat Islam Indonesia malu dan segera intropeksi diri kemudian bangkit untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan kita sehingga bisa melakukan percepatan diri menuju bangsa yang maju, subur, makmur, tentram, damai,  bahagia dan sejahtera.

 

Bagaimana Umat islam bangkit?, banyak hal yang harus dilakukan, banyak hal yang harus dibenahi tetapi mulailah dengan menegakan pondasinya dulu, yakni dengan jalan  “Mendirikan Shalat” bukan “Mengerjakan Shalat”. Karena buah dari mendirikan Shalat akan terpancar segala kebaikan, ahlak yang baik, etos kerja meningkat,  kedisiplinan yang tinggi, semangat yang tak kunjung padam di topang keikhlasan dan ketawakalan menjadikan power yang luar biasa mendobrak kebekuan menuju perubahan yang lebih baik.

 

Orang-orang yang benar-benar mendirikan Shalatnya, setiap gerak langkah dan ucapannya senantiasa di jiwai oleh nilai-nilai Shalat, maka tidak heran kalau Allah menganugrahi kekuatan ruhiyyah yang Kata-katanya sanggup mempengaruhi dan menggerakan umat untuk berubah menuju kearah kebaikan.

 

Oleh karena itu Indonesia hanya butuh 1% saja orang-orang yang benar-benar mendirikan Shalat untuk menjadi bangsa yang maju. Jika penduduk Indonesia kurang lebih 250.000.000, artinya 1% dari penduduk itu = 2.500.000, jika yang 2.5 juta ini benar benar mendirikan shalat dan diberikan anugrah oleh Allah SWT berupa kekuatan Ruhiyyah yang kata katanya sanggup mempengaruhi dan menggerakan umat, maka jika yang 2.5 juta ini sanggup mempengaruhi 1 orang saja dalam 1 tahun untuk benar benar mendirikan Shalat maka dalam 1 tahun jumlah orang yang benar benar mendirikan shalatnya menjadi 2 kali lipat yakni sebesar 5 juta, tahun ke-dua menjadi 10 juta, tahun ke-tiga menjadi 20 juta, tahun ke-empat menjadi 40 juta, tahun ke-lima menjadi 80 juta, tahun ke-6 menjadi 160 juta, dan tahun ketujuh jumlahnya sudah melebihi 250 juta artinya akan berimbas ke negara lain untuk mengikuti langkah yang sama. Kurang dari 10 tahun bangsa Indonesia akan  mempunyai modal yang kuat untuk menjadi bangsa yang maju dan 10 tahun kemudian setelah SDM nya terbentuk menjadi SDM yang benar benar mendirikn Shalat bukan mustahil bangsa Indonesia akan menjadi bangsa termaju di dunia karena keberkahan Allah SWT di limpahkan dari langit dan bumi sebagai balasan bagi orang-orang yang bersyukur.  (Bersambung ……)

 

Ayoo Kawan, Tunggu apalagi Dirikanlah Shalat dan raihlah kesuksesan, bukan hanya kesuksesan di dunia ini tetapi juga kesuksesan di akhirat nanti!

 

 

Salam Sukses !!!

 

 Erry Sukmana

 

kang_erry@yahoo.com

http://3s.z-techie.com

 

Shalat dan Shodaqoh Solusi Sukses

May 30th, 2008

oleh : Kang Erry

Untuk memahami bagaimana shalat dan shodaqoh berperan dalam kesuksesan hidup Anda, ada baiknya Anda memahami Hukum Ketertarikan  (The Law of Atrraction).

“ Sesuatu akan menarik segala sesuatu pada dirinya yang satu sifat dengan dirinya ”

inilah bunyi Hukum Ketertarikan Universal. Hukum ini menjelaskan daya tarik menarik tidak hanya terjadi pada “materi” namun juga terjadi pada “non-materi”.

Hukum ini menjelaskan bagaimana kita bisa mendengarkan siaran radio FM dari frekwensi 99.9 MHz hanya kalau radio FM kita juga di-stel pada frekwensi yang sama.

Demkian halnya dengan “non-materi” seperti hati nurani kita / ruhani, maka akan berlaku hal yang sama.

Seorang yang hobi memancing akan mempunyai kecenderungan berkumpul dengan orang yang hobi memancing juga.

Suami-istri akan berjalan lancar dan awet dalam menjalani rumah tangganya kalau lebih banyak persamaan sifat dari pada perbedaannya.

Kalau kita mengeluh dan berputus asa maka kecenderungan yang tertarik adalah Justru apa yang kita keluhkan yakni berupa hal yang tidak kita inginkan seperti sesuatu yang tidak enak, kesialan atau ketidak beruntungan. Tetapi kalau kita bersyukur, benar-benar menerima dengan “Ikhlas” apa apa yang diberikan oleh Allah SWT, serta bertawakal kepadanya, maka yang akan tertarik adalah keberuntungan dan dibukanya pintu nikmat, pintu rezeki, pintu hidayah, ampunan dan segala pintu kemaslahatan di dunia dan di akhirat.

Terlepas dari semua penjelasan Ilmiah mengenai fenomena ini; dimana para ahli pikir, para ilmuwan menerjemahkan fenomena The Law of Attraction / hukum ketertarikan ini dari berbagai sudut pandang keilmuan masing-masing dengan berbagai interpretasi yang memang masih mengundang banyak kontroversi. Tetapi satu hal, bahwa : hukum ini kenyataannya memang berlaku demikian. Hal ini diperkuat dengan Firman Allah SWT dalam Al-Qur’anul Karim, Surat Ibrahim Ayat 7 :

Surat Ibrahim Ayat 7

dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Q.S. Ibrahim : 7)

Jika kita jeli memperhatikan ayat ini, maka ayat ini tiada lain adalah Hukum Ketertarikan itu sendiri. Jika kita menerapkan nilai-nilai syukur dalam hidup kita seperti: menerima, tidak putus asa, tidak mengeluh, tetap percaya diri dan optimis, berbaik sangka dan lain sebagainya, maka Allah akan menambahkan nikmat kepada kita; dengan kata lain menarik nikmat, menarik segala kebaikan, dibukanya pintu rezeki, hidayah dan ampunan.

Tetapi Jika kita kufur terhadap nikmat yang diberikan Allah SWT, seperti berburuk sangka kepada Allah, egois, mengeluh, putus asa dan segala fikiran yang tidak enak disimpan di hati, maka “sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. Azab adalah sesuatu yang tidak mengenakan, sesuatu yang tidak kita inginkan untuk terjadi, tetapi kita pasti menerimanya ketika kita tidak mau mensyukuri apa-apa yang telah diberikan Allah kepada kita, dengan kata lain menarik azab, menarik kesialan dan ketidak beruntungan dalam hidup kita.

Bentuk syukur mahluk terhadap sang pencipta (Khalik) adalah hanya dengan jalan mengabdi / ibadah kepada Allah dengan pengertian yang seluas luasnya. Oleh karena bentuk syukur itu ibadah, maka berlaku sebuah rumus :

IBADAH YANG PALING UTAMA = SYUKUR YANG PALING UTAMA

Ibadah yang paling utama tiada lain adalah dengan mendirikan Shalat, yakni melaksanakan Shalat dengan khusyu, ikhlas dan benar; serta menerapkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Sahalat terkandung nilai disiplin, rendah Hati, optimis, fokus / serius / khusyu, ikhlas, tawakal, sabar, tenang / tumaninah, teliti, taat pada aturan, kejujuran, kebersamaan, persatuan , cinta dan kasih sayang, serta seabreg nilai-nilai kebaikan lainnya.

Artinya, jika kita tidak menerapkan nilai-nilai Shalat dalam kehidupan sehari-hari maka bukan termasuk orang-orang yang mendirikan Shalat! Tetapi hanya mengerjakannya saja, yang tidak akan bisa memberikan manfaat apa-apa, kecuali rasa cape semata. Maka pantaslah mendirikan Sahalat adalah bentuk syukur yang paling utama dan merupakan amal yang paling pertama di hisab, karena Shalat adalah induknya ibadah yang menjadi ruh dalam setiap ibadah yang kita lakukan.

Shalat bagaikan magnet yang sangat luar biasa dahsyatnya untuk menarik segala kesuksesan yang Anda inginkan. Shalat merupakan sentralisasi power dengan kekuatan tak terhingga, hanya Allah yang tahu, karena anugrah Allah SWT begitu sangat besar.

Demikian halnya dengan Shodaqoh, maka The Law of Atraction / Hukum Ketertarikan pun berlaku; apapun yang kita berikan, jika dilakukan dengan ikhlas, akan menarik segala kebaikan yang merupakan anugrah Allah SWT sebagai balasan kita bersyukur atas nikmatnya.

“Kalau kita melapangkan kesusahan orang lain, maka kita akan dilapangkan oleh Allah SWT”

inilah yang menjadi sebab, mengapa Shodaqoh tidak akan membuat pelakunya rugi atau bangkrut, malah di balas dengan rejeki yang berlipat ganda oleh Allah SWT.

Shalat dan Shodaqoh merupakan perpaduan yang sangat serasi, dan dalam Al-Qur’an akan banyak kita temukan perpaduan Shalat dengan Shadaqoh, Infaq dan Zakat; yang intinya adalah menafakahkan sebagian rezekinya di jalan Allah.

Surat Al-Baqarah Ayat 3

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka (Q.S. Al-Baqarah : 3)

Surat Ibrahim Ayat 31

Katakanlah kepada hamba-hamba Ku yang telah beriman: “Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan (Q.S. Ibrahim : 31)

Surat Al Faathir Ayat 29

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi (Q.S. Al Faathir : 29)

Surat Al Anfal Ayat 3

(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka (Q.S. Al-Anfal : 3)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat bernada sejenis dalam Al-Qur’an yang memadukan Shalat dan Shodaqoh / menafkahkan sebagain rezekinya di jalan Allah. Hal ini menunjukan bahwa keduanya mempunyai kaitan yang sangat erat sekali.

Kalau kita telaah kembali sejarah pergerakan Islam yang berawal dari padang pasir tandus di kampung kecil bernama Mekah, dalam waktu hanya 100 tahun berkembang menjadi sebuah imperium raksasa dengan wilayah kekuasaan terbesar di dunia, sebuah prestasi yang sangat luar biasa yang tidak ada seorangpun di dunia ini yang bisa menyamainya.

Di jaman Rasulullah, mesjid tidak hanya menjadi tempat shalat; melainkan juga menjadi sentral pemerintahan dan pembinaan umat, serta tempat perlindungan orang-orang miskin. Islam menyantuni fakir miskin melalui baitul mall sebagai wujud iman yang sesungguhnya.

“ tidak disebut beriman seseorang yang membiarkan tetangganya kelaparan ”

Islam memiliki konsep pergerakan moral dengan memadukan perbaikan sendi-sendi perekonomian yang pro rakyat; sehingga rakyat menjadi loyal dan bangkit dengan disertai sebuah keyakinan iman yang sangat luar biasa, menjadikan Islam menjadi agama yang paling pesat perkembangannya di seluruh dunia.

Shalat dan shodaqoh iniah yang menjadi rahasia bagaimana generasi Islam pertama mencapai kesuksesan yang gemilang.

Sebagai salah satu ilustrasi, bagaimana shodaqoh ini berperan dalam awal penggapaian kejayaan sebuah bangsa adalah sebagai berikut:

Jika dalam sebuah desa ada sekitar 200 orang yang suka merokok, I hari 1 bungkus dengan harga per bungkus Rp. 8.000; kalau misalnya disisihkan uang rokoknya sebesar Rp. 1.000 untuk shodaqoh, toh tidak akan memberatkan hanya membeli rokok Rp. 7000 atau satu bungkus kurang 1 batang atau 2 batang rokok, dalam prakteknya para perokok juga tidak begitu pelit memberikan rokok sebatang atau dua batang kepada teman atau relasinya sebagai kebiasaan dalam pergaulan.

Berarti kalau sanggup shodaqoh sehari Rp. 1.000, maka 1 hari terkumpul uang Rp. 200.000 dan dalam sebulan sudah terkumpul Rp. 6.000.000 !

Itu baru dari para perokok, belum dari ibu-ibu dari sisa uang belanja dan dari masyarakat yg memang sudah biasa bershodaqoh. Maka jika di kampung itu ada 10% yang miskin, dan uang hasil shodaqoh ini digunakan untuk modal kerja masyarakat yang miskin dibina mental spiritualnya, diarahkan kerjanya serta dikontrol progress-nya, maka kemiskinan bisa di berantas kurang dari 5 tahun.

Coba kalau semua rakyat Indonesia punya kesadaran akan hal ini dan mau melaksanakannya, hanya dalam waktu relatif singkat bangsa Indonesia akan bangkit dari keterpurukan. Pemberantasan kemiskinan bukan tanggung jawab pemerintah semata melainkan tanggungjawab kita semua. Inilah konsep Islam dalam memberantas kemiskinan menuju bangsa Indonesia yang maju di segala bidang.

Lalu apa yang kita dapat dari hasil sholat dan shodaqoh kita? Sudah pasti keberuntungan dan nikmat serta anugrah dari Allah yang melimpah ruah, dibukakan segala kemudahan dalam segala hal, di curahkan rakhmat Allah dari langit dan bumi, kebahagia sejati di dunia dan di akhirat, menjadi manusia yang sukses ; yakni manusia yang bisa memberikan manfaat tidak hanya untuk dirinya melainkan juga untuk masyarakat di sekelilingnya. Inilah janji Allah SWT yang tidak mungkin berdusta. Sebagai umat islam kita wajib meyakini akan hal ini, kalau kita tidak yakin maka sama saja kita tidak meyakini al-Qur’an dan itu artinya kita tidak meyakini Allah yang menurunkan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia.

Allah SWT berfirman :

Surat An Naml Ayat 40

… dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia” (Q.S. An-Naml : 40)

Lihatlah bahwa Allah tidak membutuhkan Syukur kita Allah itu Maha Kaya, karena sesungguhnya kalau kita bersyukur maka itu akan kembali kepada kita juga. Shalat dan Shodaqoh adalah implementasi dari rasa syukur kita kepada Allah, Demi Allah, Allah SWT tidak akan pernah mensia-siakan amal perbuatan kita walau sekecil apapun.

Ayo kita jadikan Shalat dan Shodaqoh sebagai Solusi Sukses; dan segera wujudkan impian dan cita-cita kesuksesan Anda!

Erry Sukmana

- Kang Erry -

Media OnLine Sementara 3S

May 29th, 2008

Atas permintaan pencetus 3S (Sehari Shodaqoh Semampunya) yaitu Erry Sukmana, maka dibuatlah media OnLine sementara (3s.z-techie.com) yang berbasiskan CMS WordPress. Ini adalah wujud dukungan saya pribadi terhadap gerakan 3S, semoga bermanfaat …

- DaNnY De ViruZer -